BANDA ACEH – Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyatakan, sebanyak dua orang pasien korban ledakan sumur minyak ilegal di Desa Pasir Putih, Aceh Timur, telah kembali ke rumah masing-masing.

“Kemarin ada dua pasien di rawat rumah sakit setempat, tapi telah diperbolehkan pulang oleh tim medis,” kata Kepala Pelaksana BPBA, Teuku Ahmad Dadek di Banda Aceh, Selasa.

Ia menjelaskan, kedua korban tersebut atas nama Hendra Syahputra (30), warga Desa Bhom Lama, dan Muhammad Fauzi (21), warga Desa Pasir Putih.

Mereka berdua merupakan penduduk di Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, sempat mendapat perawatan intensif sekitar enam hari di rumah sakit setempat, karena mengalami luka ringan.

Tim medis rumah sakit, lanjutnya, khawatir kedua pasien tersebut menghirupkan semburan sumur minyak. Karena selain kandungan air sekitar 85 persen, sisanya 15 persen merupakan minyak mentah, dan gas bumi.

“Walau dua orang itu telah berada di rumah, tetapi mereka wajib mengontrol kesehatan ke rumah sakit. Atau istilahnya, rawat jalan lah,” kata dia.

Data pihaknya, akibat meledak dan terbakarnya sumur minyak ilegal di Desa Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, Rabu, (25/4) pukul 2.05 WIB, telah menewaskan 21 orang.

Terdapat 39 orang mengalami luka bakar, lima rumah ludes terbakar, dan 198 orang mengungsi ke kerabat terdekat karena ledakan terjadi di saat warga sedang mengumpulkan minyak mentah.

“Alhamdulillah, korban luka bakar yang di rawat rumah sakit kini cuma 37 orang,” ucap Dadek.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur, Syahrizal Fauzi, pekan lalu mengatakan, tekanan semburan dari sumur minyak itu masih mencapai 30 meter dari permukaan tanah.

Selain itu, dia menerangkan, arah angin juga tidak menentu. Masyarakat setempat, dilarang mendekat hingga radius 200 meter karena sangat membahayakan bagi kesehatan.

“Radius 200 meter sangat berbahaya untuk kesehatan, sehingga kita haruskan seluruh Satgas BPBD yang diposkan disana untuk selalu mengenakan masker setiap saat,” tegas Syahrizal.