SIGLI – Hujan lebat disertai angin kencang melanda Kecamatan Geumpang, Pidie, Rabu (21/3) sekitar pukul 16.00 WIB. Akibatnya, atap tujuh rumah milik warga rusak tertimpa pohon durian dan pinang yang tumbang. Tak ada korban jiwa maupun yang cedera dalam peristiwa ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi dari warga dan pihak kepolisian, angin kencang bertiup saat langit Pidie mendung. Warga memilih berlindung di dalam rumah karena turun hujan lebat meski hanya beberapa menit. Tiba-tiba angin puting beliung bertiup sehingga menumbangkan pohon durian dan pinang di Gampong Pucok dan Gampong Leupu, Kecamatan Geumpang. Hasil pendataan pihak kepolisian, tercatat tujuh rumah yang atapnya rusak. Yakni, rumah Abdul Hamid (52), warga Gampong Pucok yang rumahnya rusak berat akibat tertimpa pohon durian. Berikutnya, rumah Arbit (55), Samsuar (33), Lukman (60), dan Saiful Arani (40), keempatnya merupakan warga Gampong Pucok. Kondisi rumah mereka rusak ringan. Khusus rumah Arbit dan Samsuar rusak akibat tertimpa pohon pinang. Sedangkan seng atap rumah Lukman terlepas setelah disapu angin puting beliung. Adapun atap rumah Saiful Arani rusak ringan karena tertimpa pohon.

Rumah lain yang rusak ringan adalah milik Nasron Ahmad (38) dan Saiful Zainal (55), keduanya warga Gampong Leupu, Kecamatan Geumpang. Atap seng rumah mereka copot akibat diterjang angin kencang.

Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK, yang ditanyai Serambi kemarin mengatakan, tujuh rumah yang rusak akibat diterjang puting beliung itu, satu rusak berat, yakni milik Abdul Hamid, sedangkan yang lainnya rusak ringan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie, Apriadi SSos, kepada Serambi kemarin mengatakan, pihak BPBD Pidie melakukan koordinasi dengan Polres, Dinas Sosial Pidie, dan camat setempat terkait rumah yang rusak akibat puting beliung di Geumpang. Hal yang dikoordinasikan antara lain bantuan masa panik yang harus segera disalurkan kepada para korban puting beliung.

Tak hanya itu, kata Apriadi, Dinsos Pidie harus berkoordinasi dengan Dinsos Aceh supaya segera dapat diberi bantuan material untuk merehab rumah yang rusak. Sebab, menurutnya, rumah yang rusak itu umumnya di bagian atap dan sebagian dinding akibat tumbangnya pohon.

“Laporan yang kami terima, pemilik rumah yang terkena bencana tidak sampai mengungsi. Artinya, warga tetap bertahan di rumah tersebut, meski atapnya rusak,” demikian Apriadi.

Sementara itu, Sekretaris Dinsos Pidie, M Husen Yahya, yang dihubungi Serambi kemarin menjelaskan, petugas Dinsos Pidie turun langsung ke Geumpang untuk mendata ulang rumah rusak. Dengan demikian, nantinya akan diketahui secara detail jumlah rumah yang rusak dan bagaimana kondisi riilnya.

Menurut M Husen, rumah-rumah yang rusak itu nantinya akan dibantu dengan dana tunai yang diplotkan di Badan Keuangan Pidie. Bantuan baru bisa dicairkan setelah adanya usulan dari camat.

“Bantuan tunai itu besarnya 1 juta hingga 3 juta rupiah per rumah. Kami juga akan melaporkan ke Dinas Sosial Aceh tentang rumah-rumah yang rusak itu,” sebut M Husen.

Ia tambahkan, untuk bantuan masa panik Dinsos Pidie telah mengantarkan kepada korban di Geumpang, Kamis (22/3). Bantuan itu berupa sembako, perlengkapan sekolah, dan selimut.

“Kita juga akan mendirikan tenda di depan rumah para korban selama satu bulan jika pemilik rumah menginginkan tenda,” ujarnya.