BANDA ACEH  – Aceh, provinsi yang menerapkan Syariat Islam, sudah mengimpor karpet permadani dalam dua bulan terakhir senilai 64.508 dolar AS, salah satunya untuk menghadapi Ramadhan tahun ini.

“Aceh impor permadani di Januari senilai 24.079 dolar AS, dan Februari 40.429 dolar AS,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik Aceh, Wahyudin di Banda Aceh, Jumat.

Padahal, lanjutnya, sepanjang tahun 2017, provinsi paling Barat di Indonesia ini tidak tercatat karena memang tidak terdapat impor kelompok komoditi non minyak dan gas bumi (migas) tersebut.

Tujuan bagi provinsi ini dalam mengimpor langsung karpet permadani dari negara produsen, karena untuk menekan harga jual di pasaran, seperti toko di Aceh.

Sebab importir meyakini, kebutuhan pasar akan karpet permadani semakin meningkat. Terutama dalam dua bulan ke depan, yakni bulan puasa hingga Lebaran.

“Biasanya masjid atau mushola mencari karpet permadani baru, dan panjang untuk kegiatan solat berjamaah. Penduduk di Aceh pun, begitu. Mereka mencari sajadah baru, permadani. Bagi kaum ibu-ibu, lazimnya mereka membeli persiapan sambut Lebaran dengan berbagai macam jenis karpet permadani,” kata Wayudin.

Sejumlah pedagang di Pasar Aceh, Banda Aceh, mengaku, penjualan kebutuhan ibadah bagi umat muslim di Aceh berjalan normal.

“Ini kan, masih ada sekitar sebulan lagi kita masuk bulan puasa. Jadi, penjualan masih normal seperti biasa,” terang Azhari (35), pedagang di PasarAceh.

Haris (47), pedangang lain pasar tersebut berujar, lazimnya pembeli justru tertarik karpet permadani impor dibandingkan produk buatan dari Tanah Air.

“Paling mahal itu, dari Turki. Kalau yang asli (karpet permadani), harganya bisa sampai puluhan juta,” katanya.