BANDA ACEH – Anggaran yang melimpah dimiliki Aceh dari dana otonomi khusus (Otsus) ternyata belum mampu membebaskan provinsi itu dari jurang kemiskinan. Aceh masih tercatat sebagai provinsi termiskin kedua di Sumatera dan ketujuh di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat, jumlah penduduk miskin di Aceh per September 2015 mencapai 859 ribu orang atau 17,11 persen. Angka ini bertambah delapan ribu orang dibanding jumlah orang miskin pada Maret lalu.

Lembaga Kajian Institute for Development of Acehnese Society (IDeAS) menyebutkan, tingkat kemiskinan di Aceh berada satu digit di atas Provinsi Bengkulu (17,16 persen) yang menempeti juru kunci provinsi termiskin di Sumatera. Sementara dari dari 34 provinsi di Indonesia, maka Aceh masuk tujuh besar sebagai daerah termiskin.

Menurutnya angka kemiskinan di Aceh masih di bawah rata-rata nasional yakni 11,13 persen. Tingginya angka kemiskinan menjadi indikator bahwa rakyat Aceh belum sepenuhnya sejahtera.

Tingginya angka kemiskinan di Aceh menunjukkan dana otsus dan anggaran lainnya di Aceh yang begitu banyak, ternyata belum mampu digunakan untuk kesejahteraan rakyat.

Sejak 2008, Aceh tercatat sudah menerima dana Otsus senilai Rp41,49 triliun. Dana Otsus akan terus diterima Aceh hingga 2027, sebagai bentuk kompensasi kepada daerah yang pernah dilanda konflik bersenjata tersebut. Jumlah Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) 2015 sendiri mencapai Rp12 triliun. Jumlah penduduk Aceh sendiri hanya 5 juta jiwa.

Kenyataannya uang sebanyak itu belum mampu dipakai maksimal dalam mengangkat taraf hidup masyarakatnya. Angka pengangguran di Aceh masih berada diurutan tertinggi di Indonesia yakni 9,93 persen.

“Kita berharap semoga kebijakan anggaran yang sedang dibahas eksekutif dan legislatif Aceh untuk tahun anggaran 2016 berioentasi terhadap penanggulangan kemiskinan,” pungkasnya.