Banda Aceh – MRS (28 tahun), seorang germo yang ditangkap Polresta Banda Aceh karena mengelola praktek prostitusi online mengaku sudah dua tahun menjalankan bisnis ini. MRS dibekuk aparat kepolisian di salah satu hotel berbintang di kawasan Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Rabu (21/3) malam.

Kapolresta Banda Aceh AKBP Trisno Riyanto dalam konferensi pers di Mapolresta Banda Aceh mengatakan bahwa MRS memasang tarif dengan harga Rp 2 juta per sekali kencan. Dari tarif itu, MRS bisa mendapatkan komisi Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu. Harga tersebut bisa saja bertambah atas kesepakatan bersama dengan PSK binaannya.

“Pengakuannya bisa sampai lima ratu ribu-enam ratus ribulah satu kali kencan. Tapi kesepakatan dia dan perempuannya juga. Ya, bisa saja lebih,” kata Trisno, Jumat (23/3) sore.

Melalui aplikasi online tersebut pelaku lebih luas dan nyaman untuk melakukan aksinya. Bahkan sistem serba canggih saat ini, ia (germo) hanya dengan mengirimkan foto PSK kepada lelaki hidung belang untuk memilih sebelum melakukan transaksi.

Karena sering adanya razia yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) maka pelaku sering berpindah-pindah tempat untuk bertransaksi agar bisnis lendirnya itu tidak tercium.

Hingga saat ini Polisi terus melakukan mengembangkan atas kasus ini, kemungkinan masih ada Protisusi lainnya yang masih beroperasi di Aceh.

Seperti diketahui tujuh wanita ditangkap yakni CA (24), RM (23), DS (24), RR (21), IZ (23), MJ (23) yang merupakan mahasiswi, dan AYU (24) sebagai pekerja swasta.

Selanjutnya, mereka diduga akan dikenakan sanksi dengan pasal 25 ayat (2) Jo, pasal 23 ayat (2) Jo, pasal 6 tentang Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 dengan hukuman Jinayah dan ancaman hukuman 45 kali cambuk atau denda 450 gram emas murni atau penjara paling lama 45 bulan.