BANDA ACEH – Ratusan buruh yang tergabung dalam Aliansi Buruh Aceh (ABA) menggelar aksi dan berorasi depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Aksi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional yang diperingati seluruh dunia.

Aksi berlangsung sejak pukul 08.30 WIB, Selasa (1/5), selain berorasi dari setiap perwakilan organisasi dan serikat pekerja buruh, juga membawa sejumlah poster dan spanduk.

Sebelum berorasi, seluruh peserta aksi menggelar doa bersama untuk seluruh korban tragedi meledaknya sumur minyak tradisional di Aceh Timur. Peserta aksi lalu duduk menghadap kiblat di atas jalan menggelar zikir dan berdoa untuk yang korban meninggal maupun yang masih sedang dirawat saat ini.

Setelah itu setiap perwakilan buruh menyampaikan berorasi, isu masih tetap mempertanyakan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan buruh.

Hal yang paling disoroti oleh buruh adalah tenaga asing yang sudah mulai masuk ke Indonesia, tak terkecuali juga Aceh sudah beberapa kali didapatkan. Tenaga asing yang masuk itu, bukan tenaga ahli, pekerjaan yang dikerjakan buruh sebenarnya bisa dikerjakan oleh orang Aceh sendiri.

Sorotan lain yang disampaikan adalah lemahnya pengawasan dari Pemerintah Aceh terkait pemberian Upah Minimum Provinsi (UMP). Pada buruh mengakui, setiap tahunnya di Aceh UMP selalu naik, akan tetapi realisasinya masih belum tercapai dengan maksimal.

Ketua ABA, Tgk Syaiful Mar mengaku, UMP yang telah ditetapkan Rp 2,7 juta oleh pemerintah Aceh. Namun hanya baru 40 persen yang sudah terealisasi dari pemantauan yang dilakukannya. Ini disebabkan pengawasan dari pemerintah masih sangat minim.

“UMP memang setiap tahun naik, tetapi realisasinya yang tidak ada, banyak perusahaan yang masih memberi upah di bawah UMP, hanya 40 persen saja yang terealisasi di Aceh,” kata Tgk Syaiful Mar di sela-sela aksi.

Menurutnya, masih minimnya realisasi perusahaan membayar upah sesuai dengan UMP, ini akibat tim tenaga pengawasan di Aceh hanya berjumlah 26 orang. Mereka harus melakukan pengawasan sebanyak 4.800 perusahaan yang ada di Aceh.

“Bayangkan kalau hanya 26 orang, bagaimana cara mengawasi, apa jadinya, sehingga perusahaan mengelabui gaji tenaga kerja yang ada di Aceh,” tukasnya.

Tak hanya itu, Syaiful Mar juga menyoroti keberadaan Qanun Nomor 7 Tahun 2014 tentang ketenagakerjaan. Dalam qanun tersebut telah ditetapkan agar memberikan tunjangan meugang (tradisi makan daging jelang puasa dan hari raya), namun hampir semua perusahaan di Aceh belum merealisasikannya.

“Jadi kami juga meminta agar pada hari meugang itu diliburkan,” pintanya.

Buruh Aceh juga menyoroti tentang keberadaan tenaga kerja asing yang bekerja di Aceh. Meskipun para buruh tidak menolak tenaga asing, akan tetapi sesuai dalam qanun ketenagakerjaan, hanya tenaga asing yang memiliki keahlian khusus yang diperbolehkan kerja di Aceh.

“Tetapi faktanya kami banyak menemukan perusahaan yang mempekerjakan tenaga asing yang seharusnya bisa dikerjakan oleh orang Aceh sendiri,” tukasnya.

Syiful Mar mencontohkan, ada salah satu perusahaan semen di Aceh menemukan mempekerjakan tenaga asing yang bukan tenaga ahli. Tetapi pekerjaan itu sebenarnya bisa dikerjakan oleh warga Aceh.

“Sudah pernah kami sidak, kami pernah menemukannya dan pernah kami minta untuk dideportasi ke negara asalnya masing-masing, kita tidak benci tenaga asing, tetapi harus dipekerjakan tenaga asing yang memiliki keahlian khusus,” jelasnya.

Sementara itu Sekretaris AJI Kota Banda Aceh, Afifuddin juga ikut menyampaikan orasi. Dalam orasinya dia menyebutkan bahwa jurnalis juga buruh dan sama dengan kaum pekerja lainnya, karena masih menerima upah.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh jurnalis untuk bersama-sama memperjuangkan aspirasinya untuk meningkatkan kesejahteraan jurnalis. “Jurnalis juga buruh, sama dengan kawan-kawan buruh lainnya, mulai saat ini mari kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan hidup yang layak,” tukasnya.

Setelah melakukan orasi, ABA kemudian melakukan long march menggunakan kendaraan mengelilingi kota Banda Aceh. Setelah itu semua buruh berkumpul di Balai Kota Banda Aceh untuk melakukan kegiatan sosial, yaitu melakukan donor darah.