Banda Aceh – Sejumlah masyarakat di Aceh mengeluhkan kondisi cuaca panas menyengat karena sinar matahari terik, terutama pada siang hari dalam sepekan terakhir.

“Embusan angin dari laut, sangat minim sekali. Kami cuma rasakan panas dari sinar matahari, apalagi di ubun-ubun kepala ini,” kata Wahed (26), warga di Banda Aceh, Senin.

Bila malam tiba, lanjutnya, cuaca terasa gerah, sehingga dirinya tidur tidak mengenakan pakaian sama sekali, kecuali kain sarung.

Lazimnya di siang hari, ibu kota Provinsi Aceh itu dilintasi oleh garis pantai sepanjang wilayah Banda Aceh, sehingga angin laut selalu bertiup setiap hari.

“Ini hari ada angin, tapi sangat minim, sehingga cuaca panas menyegat yang terasa ke tubuh kami ini,” ujarnya pula.

Ardiansyah (37), penduduk di Kabupaten Aceh Besar mengaku, dirinya terpaksa mengurangi aktivitas di luar ruangan akibat terik matahari di siang hari.

“Masalahnya sekarang, angin dari laut itu yang minim. Sudahlah hasil tangkapan kami minim. Ini di rumah pun, angin laut juga ikut minim,” ujar nelayan tradisional ini pula.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Blang Bintang di Aceh Besar telah mengingatkan, posisi matahari berada pekan ini tepat di atas garis ekuator atau khatulistiwa.

“Ini akan memberikan suhu yang lebih panas, terutama di siang hari,” ujar Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Blang Bintang Zakaria.

“Tanggal 23 Maret itu, posisi matahari tepat di khatulistiwa. Dampaknya, sejumlah daerah di Aceh terpengaruh terhadap fenomena ini seperti panas yang terik,” kata dia lagi.

 

@antara