Banda Aceh – Nilai ekspor kopi gayo Aceh mengalami peningkatan tajam 200 persen selama 2017 dibandingkan 2016.

“Tahun 2017, nilai ekspor komoditi kopi, teh, dan rempah-rampah Aceh tembus angka 34.411.949 dolar AS lebih tinggi dibandingkan periode sama pada 2016 yang hanya mencapai 11.466.585 dolar AS ,” ucap Kepala Badan Pusat Statistik Aceh, Wahyudin di Banda Aceh, Rabu.

Kenaikan itu dikarenakam pasar internasional semakin menyukai kopi Aceh, khususnya jenis arabika dan robusta yang diproduksi di daerah dataran tinggi seperti Aceh Tengah dan Bener Meriah.

“Bahkan, Amerika Serikat tercatat sebagai tujuan terbesar dari beberapa negara yang diekspor melalui Pelabuhan Belawan di Medan, Sumatera Utara,” terangnya.

Wahyudin menyebut, total nilai ekspor dari 14 kelompok komoditi asal Aceh melalui pelabuhan di luar provinsi ini pada 2017 tercatat sebesar 66.761.131 dolar AS.

Sedangkan ekspor melalui pelabuhan di Aceh tercatat delapan kelompok komoditi non migas provinsi dengan jumlah total senilai 77.827.460 dolar AS.

“Kalau untuk ekspor komiditi kopi, memang sampai saat ini pelabuhan di luar Aceh lebih siap dalam segala hal,” tegas Wahyudin.

Kepala Bagian Humas Setdakab Aceh Tengah, Mustafa Kamal sebelumnya mengatakan, kopi jenis arabica Gayo telah diekspor ke-17 negara dengan importir terbesar Amerika Serikat.

“Hingga kini, ekspor terbesar kopi kita masih ke Amerika. Secara bertahap, mulai ekspor ke negara-negara di Eropa dan Asia Pasifik,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Aceh Tengah, Rahmandi mengatakan produksi kopi arabika dalam delapan tahun terakhir mengalami peningkatan rata-rata 31.375 ton di 2016, sedangkan 2009 hanya 27.777 ton per tahun.

“Jika dilihat dalam kurun waktu dalam delapan tahun terakhir, produksi kopi arabika di Aceh Tengah terjadi peningkatan sejak 2009,” katanya.