SETELAH Rasulullah wafat dan Abu Bakar diangkat sebagai Khalifah, terjadilah gerakan pembangkangan membayar zakat dan gerakan keluar dari agama islam (Murtad) dibawah pimpinan Musailamah.

Gerakan ini segera di tindak oleh Abu Bakar dengan mengirimkan pasukan di bawah Khalid Bin Walid. Terjadilah benturan fisik di Yamamah yang menimbulkan banyak korban di kalangan Islam termasuk 70 sahabat yang Hafidz Alquran terbunuh sebagai Syuhada.

Peristiwa itu mendorong Umar untuk menyarankan kepada Khalifah segera menghimpun ayat-ayat Alquran dalam satu mushaf, karena kawatir kehilangan sebagian Alquran dengan wafatnya sebagian para penghafalnya.

Ide sahabat Umar di terima oleh Abu Bakar, kemudian ia memerintahkan kepada Zaid Bin Tsabit agar segera menghimpun ayat-ayat Alquran dalam satu mushaf/suhuf.

Zaid sangat berhati-hati dalam menjalankan tugas ini, ia berpegangan pada dua hal, ialah:

1. Ayat-ayat Alquran yang ditulis di hadapan Rasul dan di simpan di rumah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
2. Ayat-ayat yang dihafal oleh para sahabat yang Hafidz Alquran

Zaid tidak mau menerima tulisan ayat-ayat Alquran kecuali kalau disaksikan dengan dua orang saksi yang adil bahwa ayat itu benar-benar ditulis dihadapan Rasul atas perintah/petunjuknya.

Tugas penulisan ini oleh Zaid dapat di laksanakan dalam waktu kurang lebih 1 (satu) tahun, yakni antara sesudah terjadi perang Yamamah dan sebelum Abu Bakar wafat.

Mushaf karya Zaid Bin Tsabit ini kemudian disimpan oleh Abu Bakar dan kemudian Umar setelah Abu Bakar wafat. Kemudian disimpan Hafsah setelah Umar mangkat atas pesan Umar, dengan pertimbangan bahwa Hafsah adalah istri nabi yang hafidz Alquran dan pandai baca tulis.

Sumber : inilah.com