Tradisi Muegang merupakan salah satu kebiasaan masyarakat Aceh saat menyambut bulan Ramadhan. Muegang merupakan serangkaian aktivitas membeli, mengolah dan menyantap daging sapi.

Tradisi ini dilakukan dua hari menjelang Bulan Ramadhan atau di penghujung bulan Syaban. Tradisi meugang juga sering dilakukan pada saat menjelang hari raya Idul fitri dan Idul Adha. Namun yang paling sangat istimewa adalah tradisi meugang saat menyambut bulan puasa. Masyarakat akan keluar rumah dan mencari daging untuk diolah dan dimakan bersama keluarga.

Bahkan, masyarakat Aceh yang hidup di perantauan seakan wajib mengikuti tradisi ini. Mereka akan berbondong-bondong pulang kampung hanya untuk berkumpul bersama keluarga untuk menikmati sajian daging sapi yang diolah bersama.

Berdasarkan data yang dihimpun merahputih.com, tradisi Meugang sudah ada sejak zaman dahulu. Masyarakat Aceh saat itu menilai makan daging sapi merupakan kegiatan yang istimewa. Sebab, mereka hampir tidak pernah mengkonsumsi sapi selain pada hari-hari tertentu.

Dikisahkan, Tradisi Meugang sudah berlangsung sejak masa Kesultanan Iskandar Muda di Aceh. Untuk memberi makan istimewa kepada warganya yang miskin, Sultan kemudian membagi daging sapi secara gratis kepada warganya.

Hal ini dilakukan Sultan sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat Aceh. Saat itu, sebulan sebelum Meugang kepala desa sudah menerima surat untuk mendata warga miskin di desa masing-masing. Berdasarkan yang telah dikumpulkan itu Sultan mengirimkan uang untuk membeli sapi untuk warga miskin.

Dalam catatan lain, disebutkan Sultan Iskandar Muda memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagikan secara gratis kepada seluruh rakyatnya. Hal ini dilakukan Sultan rutin menjelang puasa Ramadhan.

seiring perjalanan waktu, prosesi yang dilakukan Sultan menjamur hingga memotivasi orang kaya untuk turut berpatisipasi dalam kegiatan itu. Meugang kemudian menjadi tradisi masyarakat Aceh yang mayoritas Islam. Meski modelnya berbeda dengan masa Kesultanan, makna terkandung di baliknya sama.

Setelah Kerajaan Aceh ditaklukan oleh Belanda pada tahun 1873, tradisi ini tidak lagi dilaksanakan oleh raja. Namun, karena hal ini telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Aceh, maka Meugang tetap dilaksanakan hingga saat ini dalam kondisi apapun.