Aceh – Situs Kerajaan Lamuri di Aceh Besar diyakini sebagai kerajaan tertua di Aceh. Kerajaan ini menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam di Gampong Pande, Banda Aceh. Awalnya, Kerajaan Lamuri adalah kerajaan Hindu, bukan Islam.

Tim peneliti dari Aceh dan Malaysia melakukan penggalian di situs sejarah Kerajaan Lamuri di Bukit Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Di sana, pecahan-pecahan kecil keramik dan tembakar ditemukan. Penelitian selama 13 hari itu menemukan artefak-artefak berusia ratusan tahun.

“Dari hasil analisis, artefak tersebut telah berumur lebih kurang 700 tahun,” kata Arkeolog Aceh sekaligus ketua tim ekskavasi penelitian situs Lamuri dari Aceh, Dr Husaini Ibrahim, Senin (19/3/2018).

Penggalian tersebut juga menemukan sebuah mangkuk dalam kondisi masih utuh dan terbuat dari keramik. Mangkuk tersebut ditemukan pada kedalaman sekitar 50 sentimeter dan dalam posisi terbalik.

“Dari hasil analisis diketahui keramik ini diproduksi dari Vietnam pada abad ke-14 dan 15 Masehi. Keramik Vietnam, keramik China yang diproduksi pada masa Dinasti Song Selatan dan Yuan abad ke-13 Masehi juga dijumpai ketika penggalian. Selain itu juga ada tembikar dari Asia Selatan yang diduga berasal dari periode yang sama,” jelas Husaini.

Para sejarawan meyakini Kerajaan Lamuri sebagai kerajaan tertua di Aceh. Dalam sebuah seminar tentang “Mewujudkan Lamuri sebagai Situs Cagar Budaya”, Pengarah Pusat Penyelidikan Arkeologi Global USM Malaysia, Prof Dr Dato’ Mukhtar bin Saidin, menyebutkan nisan tertua yang pernah ditemukan di sana yaitu dari tahun 1007 masehi.

“Ini dua tahun lebih tua daripada kerajaan Islam pertama yaitu Kerajaan Pasee,” kata Mukhtar, tiga tahun lalu.

Letak Kerajaan Lamuri sangat strategis sebagai pusat perdagangan. Di bawah bukit terdapat lautan yang dijadikan sebagai pelabuhan. Sehingga tidak heran jika kerajaan ini banyak disinggahi kapal-kapal perdagangan dunia pada zaman dulu. Di sana, jadi pusat perputaran uang antar bangsa.

Awalnya, Kerajaan Lamuri memang bukan kerajaan Islam. Dari beberapa batu nisan yang diteliti arkeolog, membuktikan adanya evolusi dari Hindu ke Islam dari aspek budaya. Menurut Mukhtar, hal tersebut memperkuat Islam masuk ke Aceh bukan secara paksa.

Beberapa peneliti mengungkapkan, pahatan-pahatan pada ukiran batu nisan yang ditemukan di bukit Lamreh ini memiliki keunikan tersendiri. Bentuknya khas kerajaan. Pahatan pada nisan berbeda-beda, tergantung jabatan yang diemban semasa kerajaan berdiri.

“Batu nisan di sana juga khas dan satu-satunya di dunia,” ungkap Mukhtar.

Kerajaan Lamuri diyakini sudah ada jauh sebelum abad ke-13. Selain dilihat dari berbagai bentuk nisan, juga ada tulisan-tulisan yang menyebut tentang kerajaan tertua di Aceh ini. Beberapa orang yang pernah melakukan perjalanan keliling dunia seperti Laksamana Cheng Ho, Marcopolo, dan sejumlah nama lain diketahui pernah singgah ke sana.

“Cheng Ho pernah singgah di Lamuri sebanyak tujuh kali. Marcopolo juga pernah menyebut tentang Lamuri,” kata Arkeolog Aceh, Dr Husaini Ibrahim.

Beberapa bukti yang membuktikan adanya Kerajaan Lamuri pada zaman dulu yaitu terdapat banyak benteng. Antara satu benteng dengan benteng lainnya memiliki rangkaian. Tiga benteng paling terkenal yang menjadi cikal bakal lahirnya Aceh lhee sagoe adalah Benteng Indrapatra, Indrapurwa, dan Indrapuri.

Husaini yakin temuan artefak berumur 700 tahun lalu itu menjadi bukti bahwa Kerajaan Lamuri dulunya telah menjalin hubungan dengan negara-negara lain seperti Cina, Vietnam, Thailand, India serta negara di jazirah Arab. Penemuan pecahan-pecahan keramik yang menyebar di perbukitan Lamreh menunjukkan perdagangan di sana pernah eksis pada abad ke-13 hingga 15 masehi.

“Situs ini tidak hanya sebagai bukti sejarah semata, tapi juga sebagai jati diri bangsa. Ini menunjukkan bahwa Aceh telah menjalin hubungan baik dengan berbagai negara luar sejak seribu tahun terakhir,” ungkap Husaini.