BANDA ACEH – Pro kontra soal rencana kehadiran bioskop di Aceh makin ramai disikapi oleh seluruh elemen masyarakat Aceh. Mulai dari masyarakat sampai politisi memberikan sikap berbeda.

Namun sejauh ini Majelis Permusyawaran Ulama (MPU) Aceh masih pada sikap awal, belum merekomendasikan kehadiran bioskop di daerah yang sedang melaksanakan syariat Islam ini.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tgk Faisal Ali, kepada JPG, Rabu (22/3).

Menurut ulama muda ini, kehadiran bioskop bukan hal mendesak di Aceh. Apalagi mengingat masih banyak ditemukan pelanggaran syariat Islam di lokasi-lokasi hiburan dan tempat keramaian di Aceh.

Ia mencontohkan, pada November tahun lalu Polresta Banda Aceh berhasil mengungkap praktik perjudian di Funland Kawasan Peunayoung, Banda Aceh.

Ada 15 orang ditangkap. Pelanggaran syariat Islam juga sering ditemukan di salon-salon. Warnet dengan seting ruangan tertutup juga sering disalahgunakan.

Kawasan Blang Padang, tempat terbuka juga sering ditemukan pelanggaran. Apalagi nanti dengan kehadiran bioskop, dengan ruang tertutup.

Dengan kondisi pelanggaran syariat Islam yang masih sering terjadi, maka MPU Aceh menegaskan masih pada sikap awal, belum merekomendasikan kehadiran bioskop di Aceh.

Lem Faisal, sapaan akrab Tgk Faisal Ali menjelaskan,  MPU sudah jauh-jauh hari memberikan pandangan bahwa kehadiran bioskop akan lebih banyak membawa darurat kepada umat ketimbang manfaat.

“Di masa Wali Kota Banda Aceh dijabat almarhum Mawardi Nurdin, kami sudah sampaikan sikap MPU,” demikian kata Lem Faisal