Banda Aceh – Mayoritas nelayan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Lampulo, Banda Aceh, Provinsi Aceh, mencari ikan tangkap hingga ke Samudera Hindia.

“Rata-rata mereka di sini, melaut 10 hari. Dan kapal nelayan itu melaut ke Samudera Hindia,” kata Syahbandar PPS Lampulo, Kamil Sayuti di Banda Aceh, Rabu.

Ia berujar, pihaknya melakukan pengecekan terhadap persiapan nelayan di pelabuhan setempat dalam mencari ikan, seperti alat tangkap yang diperbolehkan untuk digunakan.

Termasuk kelengkapan dokumen yakni kewajiban mengantongi Surat Laik Operasi (SLO) setiap kapal perikanan, sebelum Surat Persetujuan Berlayar (SPB) diterbitkan oleh pihaknya.

Data Syahbandar setempat tahun 2017 menyebut, terdapat 359 unit kapal perikanan dengan alat tangkap 261 kapal diantaranya menggunakan pukat cincin dan 98 pancing ulur.

“Kalau syarat untuk SPB, sesuai peraturan berlaku itu wajib ada SLO dari perikanan. Tapi ini, berlaku bagi kapal perikanan di atas 10 gross ton,” terang Kamil.

Kepala Unit Pelaksanan Teknis Daerah PPS Lampulo, Aliman mengatakan, produksi ikan laut di pelabuhan setempat tahun lalu mencapai 14.000 ton.

“Dari data terakhir tahun 2017, kita baru mampu memproduksi ikan 13.976 ton lebih,” katanya.

Ia menyebut, angka produksi ikan laut ini meningkat sekitar 11,1 persen, bila dibanding dengan total jumlah produksi ikan laut di tahun 2016 yang tercatat sebanyak 12.579 ton.

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf tahun lalu mengaku, potensi di sektor perikanan selama ini masih belum tergarap secara maksimal.

Padahal, lanjut Irwandi, tiga sisi di provinsi ini berbatasan langsung dengan laut. Sehingga menjadikan Aceh, sebagai salah satu kawasan yang memiliki sumberdaya kelautan yang sangat besar.

“Hal ini wajar, mengingat Aceh memiliki luas kawasan laut mencapai 295 ribu kilometer per segi dengan panjang garis pantai mencapai 2.666 kilometer,” sebutnya.

 

@antara