MEDAN – Oknum panitera Pengadilan Tinggi Medan berinisial M, dituduh memeras keluarga narapidana asal Aceh sebesar Rp 300 juta. Kasus ini belum bisa ditindaklanjuti, karena ada beberapa tahapan yang harus dilalui pihak yang mengaku dirugikan.

Koordinator Yayasan Advokat Rakyat Aceh (YARA) Wilayah Aceh, Basri mengatakan, pemerasan ini diakui dialami Tabrani, narapidana narkotika yang tahun lalu divonis 12 tahun oleh Pengadilan Negeri Medan. Putusan ini kemudian diajukan banding ke PT Medan yang berujung pada hukuman enam tahun penjara.

Namun JPU tidak terima putusan di tingkat banding sehingga mengajukan kasasi. Hakim kemudian menaikkan masa hukuman menjadi delapan tahun penjara. “Di tingkat kasasi inilah ada oknum panitera Pengadilan Tinggi Medan yang mendekati keluarga klien kami. Dia mengaku bisa membantu asal ada uang Rp 300 juta,” kata Basri, Selasa (6/3).

Menurut Basri, M awalnya diakui meminta uang Rp 500 juta kepada keluarga Tabrani. Namun melalui proses negosiasi yang panjang, akhirnya disepakati uang pelicin itu sebesar Rp 300 juta.

Uang ini kemudian ditransfer dalam beberapa tahap. Dari bukti yang dimiliki YARA, transfer itu dilakukan pada 2 dan 6 Mei masing-masing Rp 80 juta. “Bukti lain ada, ini kebetulan yang ada saya pegang, nanti ditunjukkan semua,” lanjut Basri.

Humas Pengadilan Tinggi Medan, Adi Sutrisno tidak membantah kalau M tercatat sebagai panitera di PT Medan. Namun kasus dugaan pemerasan itu belum bisa diproses karena ada tahapan-tahapan yang harus dilalui sebelum memulai sebuah pemeriksaan. “Ada tiga Perma (Peraturan Mahkamah Agung) yang mengatur tentang pemeriksaan, jadi kita di sini (PT Medan) tidak bisa ambil sikap sendiri,” kata Adi.

Salah satunya ialah harus ada laporan tertulis dari pihak yang dirugikan. Itupun tidak otomatis pemeriksaan dilakukan, karena harus menunggu keputusan MA. “Ada disediakan Lembaga Pengaduan. Nanti pimpinan ambil keputusan, baru diturunkan ke Badan Pengawasan,” jelasnya.

Menanggapi pernyataan ini, Basri memastikan pihaknya akan melaporkan kasus ini dalam waktu dekat. “Kami sedang kumpulkan bukti, bulan ini juga kami laporkan,” ujarnya