Bandung – Sejumlah perwakilan negara Asia Afrika dan Provinsi di Indonesia sukses memamerkan kebudayaan di hadapan warga Bandung. Perwakilan Aceh, memukau mata para pengunjung.

Karnaval dalam rangka memperingati HUT Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-63 digelar di Jalan Asia Afrika di depan Gedung Merdeka yang jadi saksi digelarnya Konferensi tersebut. Sejumlah perwakilan negara hadir dalam karnaval. Selain perwakilan negara Asia dan Afrika, beberapa perwakilan dari provinsi se-Indonesia turut memeriahkan gelaran tersebut. Salah satu penampilan yang menyedot perhatian warga ialah perwakilan dari Aceh. Sedikitnya ada lima orang berjalan menyusuri Jalan Asia Afrika.

Mereka berjalan sambil menggunakan pakaian adat Aceh, Ulee Balang. Uniknya, pakaian tersebut dimodifikasi sehingga lebih menarik perhatian.

Kontingen dari Aceh memodifikasi pakaiannya dengan menambah ornamen-ornamen di pakaiannya. Mereka rata-rata menambahkan ornamen dibagian pundak dan lengannya. Pakaian yang digunakan lebih tampak mewah dengan paduan dominasi warna merah dan emas.

Sambil memamerkan, para peserta dari Aceh berlenggak-lenggok di hadapan panggung utama yang dihadiri oleh Staf Ahli Multikultural Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esti Reko Astuti, Pjs Wali Kota Bandung M. Solihin, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Kenny Dewi Kaniasari dan sejumlah perwakilan kedutaan besar negara di Asia dan Afrika.

Penampilan peserta dari Aceh membuat masyarakat yang ‘menyemut’ di Jalan Asia Afrika penasaran. Mereka berebut untuk berada di posisi depan melihat sekaligus mengabadikannya menggunakan ponsel atau kamera.

“Bagus bajunya, unik baru sekali ini melihat,” ucap Wulandari (26) salah seorang warga yang ditemui di lokasi.

Sebelum penampilan peserta dari Aceh, karnaval juga diisi oleh beberapa peserta perwakilan negara Asia Afrika. Beberapa negara seperi Korea Selatan dan Thailand. Korea Selatan menampilkan atraksi bela diri sementara Thailand menampilkan tarian khas dengan balutan pakaian khas Thailand.

Selain dua negara tersebut, sejumlah negara lain seperti Bangladesh, Polandia, Slovakia, Tunisia, Tajikistan, Azerbaijan, Jepang, Madagaskar, Vietnam, Somalia, Tanzania, Uganda, Benin dan lainnya ikut serta dalam karnaval. Namun, perwakilan negara tersebut hanya sebatas lewat.

Sementara peserta dari dalam negeri bukan hanya dari Aceh saja. Beberapa perwakilan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Indonesia ikut memeriahkan.

Karnaval Asia Afrika bertema ‘Respect Diversity’ mendapat sanjungan dari Kemenpar. Karnaval menjadi ajang positif sebagai wadah menyalurkan kreativitas.

“Ini ajang bagi mereka mempresent karya-karyanya,” ucap Esti.

Esti mengungkapkan karnaval ini juga merupakan bagian dalam upaya meningkatkan jumlah wisatawan.

“Sektor pariwisata tahun ini kami targetkan 17 juta kunjungan wisata dari mancanegara. Diharapkan dengan ini, bisa mendorong mencapai target,” katanya.

Sementara itu M. Solihin mengatakan kegiatan ini diharapkan menjadi pengingat masyarakat dari belenggu penjajahan. Selain itu, dia juga berharap kegiatan ini bisa menjadi ajang pembangunan tatanan kehidupan bagi negara Asia Afrika.

“Kami berharap kegiatan ini bredampak positif bagi warga Bandung dan lainnya terutama merekatkan nilai nasionalisme kebangsaan,” kata dia.