Aceh Besar – Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh menyebutkan sepanjang pantai timur Aceh rawan tindak kejahatan penyeludupan. Bea Cukai mengaku kesulitan dengan aksi penyeludupan kapal yang masuk ke wilayah perairan Aceh melalui jalur pelabuhan ‘tikus’ yang mengangkut barang illegal dan berbahaya.

“Wilayah pantai Timur Aceh memang rawan kasus penyelundupan, tidak semua petugas mampu melakukan pengawasan hingga ke titik-titik lokasi tersebut. Dan kendala yang kita hadapi selama ini mereka yang mengangkut barang ilegal itu masuk melalui jalur tikus,” kata Kepala kantor Kanwil Bea Cukai Aceh, Agus Yulianto, saat pemusnahan ayam ilegal asal Thailand di halaman Kantor Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh di Komplek Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar, Selasa (20/3).

Agus mengaku, dalam kurun waktu belakangan ini Bea Cukai Aceh juga mengagalkan penyelundupan barang asal Satun, Thailand yang mengangkut barang ilegal berupa tanaman serta unggas senilai Rp 1 miliar lebih melalui perairan Ujung Aceh Tamiang, yang diangkut oleh Kapal Motor (KM) Tuna I GT 35.

Untuk aksi penyelundupan ini belakagan sudah beberapa kali berhasil kami temukan. Bahkan selama 2018 Bea Cukai juga berhasil mencegah 67 kilogram sabu masuk ke Aceh, ini yang berhasil kita temukan sementara. Sedangkan masih ada yang lain bisa lolos dari jalur pintu belakang atau jalan tikus,” tuturnya.

Aceh menjadi sasaran barang impor ilegal karena dinilai lebih dekat dengan Thailand. Selama ini kata Agus, barang-barang seperti ayam dan tanaman memang banyak masuk dari sana ke perairan Aceh.

“Tugas kami mencegah makanya selama ini kita terus membangun hubungan dekat dengan berbagai pihak, membentuk strategi membangun informasi dan komunikasi bersama intelijen serta pihak TNI angkatan laut, selama ini pengawasan yang kita lakukan hanya dengan sebatas perlengakapan kapal patroli yang kita punya,” pungkasnya.

Kantor Wilayah Bea dan Cukai Aceh bersama Stasiun Karantina Pertanian Banda Aceh memusnahkan barang impor hasil sitaan berupa unggas (ayam hidup) asal Thailand sebanyak 250 ekor. Dari jumlah tersebut sebagian besar di antaranya mati karena terjangkit penyakit pullorum (penyakit menular pada ayam) .

Hanya 71 ekor ayam yang masih hidup. Namun, untuk mengantisipasi virus pullorum menyebar lebih luas, maka 71 ekor ayam yang masih hidup ikut dimusnahkan juga.