BANDA ACEH – Pengadilan Negeri Kuala Simpang, Aceh Tamiang, memvonis Suhardi sebagai pelaku penjual gading gajah di Indonesia, dengan putusan pidana kurungan selama dua tahun dan denda sebesar 50 juta.

Berdasarkan salinan putusan yang diterima, Senin (9/4/2018), disebutkan bahwa terdakwa di tangkap pada 14 November 2017. Kemudian dilakukan pemeriksaan serta mengadili perkara pidana dalam tingkat pertama kepada Suhardi (46) Warga Dusun Karang Tuan Kampung Seumana Jaya, Kecamatan Ranto Peurelak, Kabupaten Aceh Timur.

Hasil putusan pengadilan, Suhardi dinyatakan terbukti secara sah dan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja memiliki bagian-bagian satwa yang dilindungi. Pengadilan menjatuhkan pidana kepada Suhardi dengan pidana penjara sebanyak dua (2) Tahun dan diwajibkan membayar denda sebesar 50 juta rupiah, dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, maka akan diganti dengan pidana kurungan sebanyak dua bulan.

Sejumlah barang bukti yang dirampas untuk negara berupa satu unit Avanza warna putih dengan nomor polisi BK 1506 QM beserta STNK, satu buah goni berwarna putih yang didalamnya berisikan dua buah gading gajah dengan panjang masing-masing 65 centimeter, dengan berat gading masing-masing lima kilogram, satu unit Handphone lipat berwarna hitam dirampas untuk dimusnahkan.

Putusan tersebut dibacakan dalam sidang terbuka untuk umum pada Kamis 05 April 2018 berdasarkan sidang permusyawaratan majelis hakim Pengadilan Negeri Kuala Simpang pada Selasa 03 April 2018, yang dibacakan oleh Irwansyah Putra Sitorus, SH, MH, sebagai hakim ketua dan didamping hakim anggota Rizki Ramadhan SH dan Wisnubrata SH, di depan terdakwa dan kuasa hukumnya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo saat ditanyai Acehtrend.co mengatakan, pihaknya memberi apresiasi kepada pihak penegak hukum dan Pengadilan, karena telah menjatuhkan hukuman yang berat kepada pelaku kriminal di lingkup kejahatan lingkungan.

“ya kita apresiasikan putusan hakim tersebut, karena putusannya cukup tinggi, kami berharap vonis kepada pelaku perdagangan satwa liar yang dilindungi, kedepan bisa semakin maksimal, agar ada efek jera,” kata Sapto.

Menurutnya, yang di vonis di pengadilan Aceh Tamiang itu hanya pelaku perdagangan gading gajah, sementara komplotan pemburu gading itu berada diwilayah hukum Aceh Timur, “Pelakunya masih buronan,”jelas Sapto.