ACEH SINGKIL – Siswa Sekolah Dasar Negeri Dua (SDN2) Rimo, Kecamatan Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil membongkar kecurangan kontraktor yang mengerjakan pembangunan taman bunga di komplek sekolah yang terletak di pinggir jalan lintas Rimo-Singkil itu.

Aksi para siwa itu bermula saat pihak sekolah berencana akan mengganti tanaman bunga pada taman lantaran bunga yang sebelumnya tak mau berkembang , Rabu (21/3) lalu.

Saat membongkar bunga, mereka tidak sengaja mendapati bongkahan batu bata bekas bangunan sekolah memenuhi vas bunga yang dibangun oleh rekanan tahun 2016 lalu. Temuan itu membuat para siswa dan guru terkejut sekaligus menjadi jawaban kenapa selama ini bunga yang ditanam tidak mau berkembang.

“Ini tidak sengaja, awalnya kami mau mengganti bunga karena tidak subur dan kami fikir karena tidak cocok bunganya, makanya kami ganti, enggak sengaja waktu mencabut bunga, rupanya isinya bukan tanah, tapi pecahan batu bata bekas bangunan sekolah, pantas tanaman tidak subur,” kata Jalaluddin BF, Kepala Sekolah SD tersebut, Kamis (22/3).

Jalaluddin mengaku tidak ingat berapa besaran nilai kontrak pekerjaan dan nama perusahaan yang mengerjakan pembuatan taman itu. Namun taman itu dibangun tahun 2016 lalu.

“Saya tidak ingat nama perusahaanya, kami kan tidak terlalu memperhatikan proses pekerjaanya,” ujar Jalaluddin yang dihubungi via sambungan selulernya.

Jalaluddin mengaku belum tahu apakah akan mengeluarkan seluruh bongkahan batu dari dalam pas bunga atau tidak, sebab jika dibongkar seluruhnya akan banyak membutuhkan tanah untuk mengisi sejumlah pas bunga tersebut.

“Tadi sudah kami rapatkan, saya bilang jangan dibongkar semua batunya, karena membutuhkan tanah yang banyak untuk mengisinya lagi,” pungkasnya.

Pemkab Aceh Singkil diminta menindaklanjuti temuan itu, meminta pihak rekanan bertanggungjawab atau memberikan sanksi agar kejadian serupa tidak terulang.

“Pemkab harus menindaklanjuti ini, ini kecurangan yang sengaja dilakukan, apalagi ini sudah menjadi perbincangan hangat di media sosial” ujar seorang warga.