Empat abad berjalan, tradisi Meugang Aceh masih terus dipertahankan. Turun temurun budaya yang lahir sejak masa Sultan Iskandar Muda memimpin kerajaan Aceh ini diwariskan.

Meugang atau hari makan daging sapi dan kerbau, adalah tradisi yang selalu dilakukan oleh warga Aceh dua hari atau sehari sebelum Ramadhan, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Pada hari Meugang itu, warga Aceh berbondong-bondong membeli daging sapi di pasar daging yang lahir dadakan sehari sebelum ramadhan yang berjejeran di pinggir jalan atau di tempat umum yang telah disediakan khusus untuk hari Meugang.

Daging sapi tersebut lalu dimasak di setiap rumah warga, untuk dimakan bersama seluruh sanak keluarga keluarga. Sebagian pada hari itu juga warga mengundang anak yatim ke rumahnya untuk makan daging sapi bersama. Tradisi ini masih sangat melakat dengan warga Aceh.

Bagi warga Aceh, bila pada hari Meugang tidak membeli daging sapi dan makan bersama anggota keluarga merasa sedih, maka jangan heran pada hari Meugang semua warga Aceh makan daging sapi dengan masakan kuah merah, rendang dan daging panggang.

Tradisi ini pula yang memicu harga daging menjelang Ramadhan naik drastis. Pada hari-hari biasa harga daging Rp80 ribu hingga Rp90 ribu perkilogram, maka pada hari Meugang melonjak mencapai Rp140 ribu hingga Rp160 ribu perkilogram.

Badruzzaman Ismail Ketua Majelis Adat Aceh mengatakan, Meugang merupakan sebuah tradisi yang sudah sangat melekat di masyarakat Aceh. Ini sudah menjadi wadah membangun hubungan kekeluargaan dalam kontek Islami.

Sebab itu, tak sedikit pada hari Meugang, warga Aceh yang merantau ke tempat lain pulang ke kampung halaman untuk menikmati daging Meugang masakan ibunya atau istri.

“Sedih rasanya kalau pada hari Meugang itu tidak makan masakan ibu kandung kita sendiri atau masakan istri kita sendiri, begitu dekat hubungan keluarga pada hari itu,” kata Badruzzaman.

Serasa Aib

Pada zaman dulu, masyarakat Aceh menganggap makan daging ini sebagai makanan yang sangat mewah. Selain hari Meugang, masyarakat hampir tidak pernah makan daging.

Dalam tradisi masyarakat Aceh, menyambut Ramadan harus dalam pesta besar dan berkumpul semua anggota keluarga sehingga dilahirlah hari Meugang.

Sehari menjelang Meugang, warga di perantuan sudah berkumpul di rumah, tidak boleh mengirim uang untuk membeli daging tapi harus pulang dan membawa daging untuk orang tua. Hari Meugang tanpa membeli atau makan daging rasanya tak lengkap, bahkan bagai aib. Kaya miskin seakan wajib memilikinya.

Bila di satu desa diketahui oleh warga, ada orang miskin yang tidak tidak mampu membeli daging pada hari Meugang, kepala desa dan penduduk desa tersebut akan mengumpulkan uang secara patungan agar semua warganya bisa menikmati daging dihari Meugang.

Meski sekarang masyarakat sudah sering makan daging, tapi beda rasanya dengan daging saat Meugang. Bahkan jika ada anggota keluarga belum pulang ke rumah, orang tua belum tenang meski anggota keluarga lain sudah berkumpul semua.

“Yang dilakukan ini untuk membangun silaturahmi dengan anggota keluarga makan bersama  juga berkesempatan  untuk menyantuni warga miskin dan anak yatim yang tidak mampu membeli daging,” katanya.

Sejak Sultan Iskandar

Tradisi Meugang ini sudah lahir sejak masa Sultan Iskandar Muda memimpin Aceh. kala itu, sebulan sebelum Meugang kepala desa sudah menerima surat untuk mendata warga miskin di desa masing-masing.

Berdasarkan yang telah dikumpulkan itu Sultan mengirimkan uang untuk membeli sapi untuk warga miskin.

Lambat laun, Meugang menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh yang mayoritas Islam. Meski modelnya berbeda dengan masa Kesultanan, makna terkandung di baliknya sama.

Perayaan ini juga bagian dari kegembiraan menyambut Ramadhan. Jauh hari sebelumnya, warga sudah menyiapkan persiapan untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang rahmat