BANDA ACEH – Ketika sorot matahari pagi masih terasa lembut di langit kota Banda Aceh, ratusan orang umat Hindu etnis Tamil, menggelar ritual Pangguni Uthiram yang berarti hari kemenangan bagi Dewa Muruga.

Suasana di Kuil Palani Andawer, yang terletak di tengah kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, Minggu (08/04) itu,begitu sesak. Ratusan orang umat Hindu Etnis Tamil secara silih berganti memasuki kuil untuk melakukan ritual peribadatan.

Rangkaian kegiatan hari kemenangan sudah dimulai sejak Jumat (06/04), sampai puncak peringatannya pada hari Minggu (08/04) pagi.

Gelaran ritual umat Hindu ini berlangsung semarak. Yang menarik, acara ini berlangsung di Banda Aceh, ibukota provinsi yang menarapkan syariat Islam dengan sangat keras.

Pinandita atau pimpinan kuil Palani Andawer, Rada Krisna, mengatakan pihaknya tidak mengalami kesulitan dari otoritas pemerintah kota Banda Aceh, untuk menggelar acara ini.

Malahan mendapatkan bantuan pengamanan selama acara ritual keagamaan ini dilangsungkan.

“Orang India sudah ada di Aceh sejak Indonesia belum merdeka, bahkan kuil yang kami miliki sudah ada sejak tahun 1934,” ujar Rada Krisna, seperti dilaporkan wartawan di Aceh, Hidayatullah, untuk BBC Indonesia.

‘Ada kuil Hindu di negeri Syariat’

Dalam ritual keagamaan itu, tidak hanya melibatkan etnis Tamil asal Aceh dan Sumatera Utara, tetapi juga dihadiri puluhan etnis tamil asal Malaysia.

Mereka adalah Mises Putea dan Vini yang mengaku datang ke Banda Aceh khusus untuk melakukan ritual peribadatan Pangguni Uthiram.

“Kami tidak menyangka ada kuil Hindu di negeri syariat Islam,” kata salah-seorang diantaranya, seraya tersenyum.

Sementara, seorang warga Banda Aceh yang beragama Islam, Yusnaini, ikut larut menonton ritual ini. Dia berdiri di antara ratusan warga Aceh lainnya yang menyaksikan acara ini dari dekat.

“Ini merupakan refleksi dari diri saya sendiri, yang sudah secara rutin selama tiga tahun melihat perayaan ini,” katanya.

Hari Keramat Umat Hindu

Salah-seorang warga Hindu yang terlibat dalam ritual ini adalah Maheswara. Bersama tiga rekannya, dia sengaja datang dari Medan, Sumatra Utara, untuk melibatkan diri dalam acara Pangguni Uttiram.

Mereka mengaku terlibat dalam ritual keramat di Banda Aceh itu merupakan semacam “nazar”.

“Jika orang tua saya sehat, saya akan melepaskan nazar di Kuil Andawaer,” ujar Mahesawar. Sepuluh hari lalu, orangtuanya sembuh dari sakit yang dideritanya.

Demi melepaskan nazar, Maheswara mendapatkan 15 tusukan jarum besi pada punggungnya, satu tusukan di pipi, dan tiga tusukan jarum kecil pada dahi.

“Arti dari tusukan jarum itu sebagai bentuk terima kasih kepada sang Dewa yang sudah membantu kesembuhan orang tua saya,” ujarnya. Ini dilakukannya juga sebagai bentuk mengingat kembali perjuangan Dewa Muruga kepada umatnya.

‘Saya ingin mati di Aceh’

Sementara, pendeta umat Hindu dari Etnis Tamil yang datang atas dari Medan, Sumatera Utara, Silwarajin, mengatakan ritual penusukan itu tujuannya untuk memandikan mereka yang bernazar agar kembali dalam keadaan suci.

“Setelah mereka suci, baru dilakukan prosesi penusukan dengan jarum besi, berkeliling kampung dan kembali ke kuil,” kata Silawarajin.

Bagaimanapun, Silawarajin mengaku pernah tinggal di Aceh selama beberapa tahun sebelum wilayah itu dikoyak-koyak konflik bersenjata.

Karena alasan keamanan, dia bersama keluarganya kemudian pindah ke Sumatera Utara.

“Saat di masa konflik dulu, di Aceh banyak yang mati, jadi kami cari aman ke Medan,” ungkapnya.

Saat ini, dia mengaku ada keinginan untuk tinggal kembali di Aceh, tetapi masalahnya rumit karena usaha bisnis dan keluarganya sudah berada di Medan.

Dia kemudian mengingat lagi pengalamannya tinggal di Aceh pada tahun 1980an. “Saya ingin menghabiskan hari tua dan mati di Aceh,” katanya sembari mengenang masa lalunya.