BANDA ACEH – Bunyi genderang serta gemercik lonceng memecah keheningan pagi di Gampong Keudah, Kota Banda Aceh. Begitu juga dengan suara nyanyian dan doa di dalam Kuil Palena Andewa.

Atraksi barongsai di depan kuil juga menyedot perhatian warga Kota Gemilang (red. Julukan Banda Aceh). Ternyata masyarakat Hindu sedang merayakan Hari Maha Puja Pangguni Uthiram.

 

Ritual Maha Puja Pangguni Uthiram jatuh pada bulan Maret atau April menurut penanggalan masehi.

Perayaanya dimulai dengan menggiring para penazar ke tepi kali Krueng Aceh untuk dilakukan proses pensucian dengan 5 unsur tanah yaitu, api, air, udara dan eter. Selanjutnya ritual penusukan menggunakan vell atau logam penusuk berbentuk lembing dan hati dalam keadaan seperti kerasukan.

‘Gandewa… Gandewa… Gandewa…’ begitulah salah satu bunyi doa dari umat Hindu keturunan India etnis Tamil di Banda Aceh.

Meski tergolong umat minoritas di Negeri Serambi Mekkah, tetapi ternyata ritual agama itu membuat rasa toleransi antar umat bereagama semakin nyata di Kota yang memberlakukan syariat Islam ini. Tak sedikit warga muslim yang melihat atraksi ini dengan tertib.

Keturunan India etnis Tamil menggelar prosesi Hari Maha Puja Pangguni Uthiram selama tiga hari yaitu sejak Tanggal 6-8 April 2018.

Diantaranya menyembah urutan beberapa arca, melakukan tabuh gendang sambil menari, menusuk tubuh dengan besi dan jarum, nyanyian mantra Hindu dan mengarak patung Dewa Muruga keliling kampung tanpa alas kaki sambil memecahkan beberapa butir kelapa.

Tokoh agama Hindu di Banda Aceh, Radha Krisna bercerita, dengan jumlah umat Hindu yang tidak lebih 50 jiwa di Kota Banda Aceh bisa melaksanakan peribadatan dan ritual agama dengan bebas aman dan nyaman.

“Toleransi umat beragama di Banda Aceh sangat tinggi. Kami sudah berkali-kali membuat ritual tahunan Hari Maha Puja Pangguni Uthiram, turut didukung oleh umat mayoritas sekitar Kuil Palani Andawer di Gampong Keudah,” ujar Rada Krisna yang juga sebagai pembina (iman) Kuil Palani Andewa.

Selain umat Hindu etnis India Tamil di Banda Aceh merayakan Hari Maha Puja Pangguni Uthiram, ikut pula puluhan umat Hindu lainnya yang berasal dari Kota Medan, Sumatera Utara.

Selain itu, salah seorang warga etnis Tamil asal Kota Medan, Sumatera Utara, Dewi Sartika (31) sengaja datang ke Aceh untuk menyaksikan langsung perayaan hari ulang tahun dewanya. Ia tertarik mengunjungi Aceh sekaligus melepaskan rasa penasarannya tentang aturan syariat Islam yang berlaku di Aceh.

“Ya penasaran karena Aceh semua warganya Muslim, tetapi setelah menyaksikan perayaan ini ternyata warga Aceh sangat toleran bahkan mereka ikut menyaksikan perayaan ini. Tidak ada gangguan sama sekali,” jelas Dewi Sartika.

Sementara itu salah seorang warga Banda Aceh Asnawi mengatakan, meskipun mayoritas penduduk Kota Banda Aceh adalah Muslim dan penerapan syariat Islam, tapi dalam sejarahnya tidak pernah terjadi konflik atau kekerasan antar agama.

“Selama saya tinggal di Banda Aceh tidak pernah terjadi konflik agama di kota ini, kehidupan antar umat beragama di Banda Aceh sangat harmonis,” ungkapnya.