BANDA ACEH – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mendesak penegak hukum setempat, mengusut tuntas sampai menemukan aktor utama ledakan sumur minyak ilegal di Kabupaten Aceh Timur, Aceh.

“Harapan kami, lembaga penegak hukum mengambil langkah tegas. Dan mengusut tuntas kasus ini, sehingga menemukan aktor utama,” kata Direktur Eksekutif WALHI Aceh, Muhammad Nur di Banda Aceh, Ahad.

Ia mengatakan, peristiwa meledaknya sumur minyak ilegal dikelola masyarakat setempat, bukan baru pertama kali terjadi di kabupaten yang berada di sisi Timur di Aceh ini.

Peristiwa ini, lanjutnya, pernah terjadi pada tahun berbeda di Aceh Timur sebanyak dua kali, yakni 2015 dan 2017. Tetapi tidak separah musibah yang ketiga kali terjadi di tahun ini.

Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Aceh mencatat, ledakan sumur minyak di Desa Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, Rabu, (25/4) pukul 02.05 WIB telah menewaskan 21 orang, termasuk lima korban meninggal di tempat.

Terdapat 39 orang menderita luka bakar, lima rumah ludes terbakar, dan 198 orang mengungsi ke kerabat terdekat akibat terjadi ledakan sumur minyak, di saat warga setempat sedang mengumpulkan minyak mentah.

“Hukum aktor utamanya, sebagai bentuk tanggung jawab atas bencana kemanusian dan lingkungan hidup di Aceh,” tegas Nur.

Kapolres Aceh Timur AKBP Wahyu Kuncoro pekan ini mengatakan, polisi saat ini masih berfokus untuk menolong para korban peristiwa ledakan sumur minyak tradisional di Aceh Timur.

“Yang pertama, kami mengevakuasi korban terdampak. Kedua, sosialisasi masyarakat untuk tidak melakukan pengeboran,” katanya.

Pihaknya belum meminta keterangan para saksi karena para saksi kebanyakan masih dirawat di rumah sakit akibat mengalami luka berat.

“Kami memahami masyarakat masih berduka,” katanya.

Menurut dia, kebakaran dan ledakan sumur minyak sudah berhasil dipadamkan pada Kamis pagi.

Wahyu menambahkan, ia belum mengetahui penyebab terjadinya ledakan sumur minyak tersebut. “Masih proses penyelidikan,” katanya.