Dili – Koalisi pimpinan Xanana Gusmao, Change for Progress Alliance (AMP), berhasil memenangkan mayoritas kursi di parlemen Timor Leste, dalam pemilihan umum yang berlangsung pada bulan ini.

Kepala Pengadilan Banding Timor Leste, Deolindo dos Santos, mengatakan AMP meraih 49,6 persen suara.

Pemungutan suara itu disebut sebagai upaya untuk mengakhiri kebuntuan selama berbulan-bulan di parlemen setempat, di mana ada pemerintahan minoritas yang dipimpin oleh perdana menteri Mari Alkatiri.

Dikutip dari ABC Online pada Kamis (31/5/2018), AMP yang merupakan sebuah koalisi Kongres Nasional bentukan Gusmao untuk Rekonstruksi Timor (CNRT) dan dua partai lainnya, mengamankan 34 dari 65 kursi di parlemen.

Partai Fretilin yang menaungi PM Alkatiri diketahui memenangkan 34,2 persen suara. Partai itu mengajukan protes dugaan penyimpangan selama pemungutan suara, tetapi pengadilan banding menolak klaim tersebut.

Fidelis Magalhaes, seorang pejabat dari koalisi AMP, mengatakan hasil pemilu kali ini harus memecahkan kebuntuan di Parlemen Timor Leste.

“Timor Leste harus memiliki pemerintahan yang berdiri dan berasal dari mayoritas mutlak di parlemen,” kata Magalhaes.

Dia menolak mengomentari spekulasi bahwa mantan presiden dan perdana menteri Gusmao akan tampil lagi sebagai perdana menteri.

Adapun Gusmao belum memberikan komentar lebih lanjut terkait hal ini.

Di saat bersamaan, negara tetangga sekaligus sekutu terdekat, Australia, menyambut baik hasil pemilu yang berlangsung di Timor Leste.

Hal itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Julie Bishop dalam sebuah pernyataan resmi.

“Kami menantikan sumpah perdana menteri dan kabinet baru, karena Pemerintah Australia tetap berkomitmen untuk kerja sama yang lebih mendalam antara kedua negara kami,” kata Menteri Bishop pada Rabu, 30 Mei 2018.

Pemilu Parlemen Kelima

Peta Timor Leste (Wikimedia Commons)
Sementara itu, meski telah menjalani masa damai menyusul ketidakstabilan pasca-merdeka dari Indonesia pada 2002 silam, Timor Leste tetap belum bisa lepas dari kekerasan sporadis saat pelaksanaan kampanye pemilu.

Pemilihan umum parlemen yang digelar pada 2017, tidak menghasilkan pemenang yang jelas, kecuali partai Fretilin yang berselisih 0,2 persen suara lebih banyak daripada CNRT, di mana kemudian mendorong pembentukan pemerintahan minoritas yang dipimpin oleh PM Alkatiri.

Presiden Timor Leste Francisco “Lu Olo” Guterres membubarkan parlemen pada Januari, dan menyerukan pemilihan umum baru, yang menjadi pemilu parlemen kelima sejak kedemerdekaan.

Demokrasi termuda di benua Asia itu telah berjuang untuk mengurangi kemiskinan, memberantas korupsi, serta mengembangkan eksplorasi sumber minyak dan gas yang kaya.

Sektor energi diketahui menyumbang sekitar 60 persen dari produk domestik bruto negara itu pada 2014, dan lebih dari 90 persen masuk ke kas pendapatan pemerintah.

Adapun para kandidat dalam pemilu telah berkampanye menjanjikan pengembangan pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kualitas pertanian serta pariwisata bagi sekitar 1,2 juta penduduk, di wilayah yang sedikit lebih kecil dari Kepulauan Hawaii.

Sumber: liputan6.com